Hey everyone....
Kali ini Aku nulis postingan ini di Tanjungpandan, sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya, karena emang jarang dapat tugas ke Tanjungpandan, di Pulau Belitung.
Okay, kali ini Aku bukan menceritakan soal keindahan Pulau Belitung, udah banyak yang membahasnya, dan mungkin belum giliranku aja untuk membahasnya. Aku cuma pengen berbagi cerita yang baru saja Aku alami yang cukup mengganggu pikiranku. Baiklah pemirsa, langsung saja kita menuju Te Ka Pe!!! [halah...]
Kisah ini bermula saat sore hari ini Aku menaiki pesawat Sriwijaya Air dari Jakarta menuju Tanjungpandan. Aku mendapatkan tempat duduk di row 4D, yang berarti itu lumayan di depan dan berada di gang. Tidak perlu bersusah payah untuk menemukan tempat dudukku yang memang kosong. Tidak lama setelah duduk, ada sepasang suami istri muda bersama dengan seorang bayi perempuannya yang mencari tempat duduknya, yang ternyata tempat mereka adalah 4E dan 4F. Aku pun dengan sopan mempersilahkan mereka masuk.
Seperti biasa, saat mulai tinggal landas adalah saat Aku mulai merasa ngantuk, dan akhirnya tertidur dengan posisi bersandar di kursi seperti biasa. Namun, yang tidak biasa adalah Aku mendengar suara tangisan bayi, yang ternyata berasal dari sebelahku. Aku tidak memperdulikannya dan tetap tidur. Ternyata tangisan bayi itu cukup mengganggu tidurku, dan kebetulan tepat pada saat pembagian kotak makanan dari pramugari. Makanan pun Aku terima dan Aku dengan santainya menyantap makanan tersebut, Saat itu bayi di sebelahku masih saja menangis dengan kencangnya. Yah menangis tanpa air mata gitu lah. Bukannya tidak perduli, tapi Aku makan sambil berpikir kira-kira anak itu kenapa ya? Haus kah? tidak, karena saat diberi minum atau makan pun dia tetap menangis. Pampers-nya? Tidak, kata ayahnya pampers-nya baru diganti. Kepanasan? Sudah dikipasin juga oleh ayahnya. Kedinginan? ACnya pun sudah diarahkan ke belakang semua. Pengen jalan-jalan? Mungkin juga, tapi kulihat ekspresinya koq seperti takut gitu. Takut ketinggian? Ibunya sudah menutup jendela pesawatnya. Lalu apa donk?
